Dear olmaipren,
Pertengahan
oktober yeeayy...!!
Ada yang nungguin
update’an blog ini ga? Hihihi. Maaf yaak gini deh nasib kuli, kerja tiada henti
demi sesuap nasi.(sumveh sedih amat yaak, wkwkwk).
Oh ya olmaipren
udah pada nonton Train to Bussan belum? Itu film korea. Bukan drama romantis
lho ya, ini sih genrenya lebih ke horor, Zombi-zombi gitu lah. Tapi pas akhir
cerita tetap aja ada dramanya, sediihh coy apalagi pas adegan si Bapak yang
menjatuhkan diri dari kereta. Huhuhu.
Lepas dari film
korea, sekarang saya lagi proses baca novel barunya Tere Liye yg judulnya
“Matahari”. Serial ke tiga setelah sebelumnya ada Bumi dan Bulan. Di novel
Matahari ini ceritanya Raib, Seli dan Ali melakukan perjalanan ke Klan Bintang.
Teman-teman yang mau pinjem novelnya boleh koq, gantian tapi yaa, biasa ngantri
bacanya. Hehe
Bulan ini saya
mau bahas tema request nih dari my beloved sista, kakak kami yg tomboy itu
lhooo.. (lihat di postingan saya bulan agustus). Temanya tentang persaudaraan.
Check it
out...!!!
****
Kalau sesuai
urutan lahir dari rahim ibu, sebenarnya saya bukan anak pertama. Dan kalau
sesuai urutan lahir juga sebenarnya saya bukan 3 bersaudara.
Kami lima
bersaudara, abang saya lahir kemudian ketika masih bayi beliau meninggal,
kemudian lahir saya, lalu ada adik dibawah saya yang ternyata Allah juga lebih
sayang padanya, lanjut lahirlah Reka, dan terakhir Dinda.
Finally, kami 3
bersaudara dan cewek semua. Kebayang ga gimana 3 anak cewek menguasai rumah?
1. Berisik 2. Rempong 3. Riweh 4. Udah
3 aja dulu, malu cooy berasa buka aib keluarga, wkwkwk
Kami kalau udah
ngumpul bertiga tuh pasti berisik, secara pada comel-comel semua yak, hobbynya
ngomong, ga ada yang pendiam. Belum lagi kalau udah saling bully-bullyan. Bukan
bully yang gimana gitu ya, yah paling saling ejek mengejek sewajarnya lah.
Rempong diawali
dari aktivitas pagi, rebutan kamar mandi misalnya, rebutan kaca mau dandan,
lupa naruh dimana lipstik saya, ehh ga taunya dibawa reka ke kampus. Anak
kuliahan jaman sekarang, bawaannya lipstik coba, jangan bandingin sama jaman
saya kuliah yang masih polos, wkwkwk.
Riweh alias
ribet, misalnya kayak dirumah mau masak nasi goreng, saya yang ga suka nasgor
pakai bumbu instan, reka yang ga suka nasgor ditaruh daun bawang, dinda yang ga
suka nasgor ditaruh sosis ataupun bakso ikan. Akhirnya mamake ngomel-ngomel
sendiri anaknya ribet soal makanan. Nasi goreng matang ditaruh di meja, mau
makan silahkan, ga mau makan yaudah. 1 jam kemudian meja bersih. Dimakan
nasinya? Ya iya lah, kan laper, wkwkwkwk.
Itu sekilas
tentang saya dan adek-adek saya. sengaja sih ga nyeritain rukun-rukunnya. Tapi
bukan berarti kami ga akur n ga rukun lho ya? Wkwkwkwk
***
Ga bisa
dipungkiri adek kakak pasti sering berantem. Yang namanya keluarga pasti ada
konflik internalnya. Ini wajar sih ya menurut saya, ada batas wajarnya. Ga
mungkin juga akur-akur terus, ga mungkin juga rukun terus, hidup kan ga flat.
Hidup itu penuh masalah. Kalau udah ga punya masalah berarti udah ga hidup
lagi. Ehh??
Adek kakak juga
ga elok kalau berantem terus, udah selayaknya lah buat saling kasih mengasihi,
sayang menyayangi, cinta mencintai. Kakak sayang ke adiknya, adik juga
menghormati dan menghargai kakaknya.
Saya punya kisah,
mungkin olmaipren juga udah pernah baca,
Suatu hari di
sebuah pesawat tujuan (sebut saja makassar – jakarta) seorang Ibu yang sudah
terlihat renta naik pesawat sendirian, ibu ini duduk disebelah seorang pemuda.
Si pemuda yang melihat ibu tua ini naik pesawat sendirian akhirnya membuka
percakapan dengan si ibu tua.
“Ke Jakarta
sendirian bu?”, tanya su pemuda.
“Iya nak, mau
mengunjungi anak cucu di jakarta”, jawab si ibu tua.
“oh anak ibu
menetap di jakarta?”, si pemuda kembali bertanya.
“iya nak tinggal
di jakarta dari kuliah sampai sudah pada berkeluarga”
“anak kedua saya kerjanya dosen, yang ketiga manager di bank, yang bungsu buka klinik bersalin, dokter kandungan yang bungsu ini”, si ibu tua menjelaskan perihal anaknya.
“anak kedua saya kerjanya dosen, yang ketiga manager di bank, yang bungsu buka klinik bersalin, dokter kandungan yang bungsu ini”, si ibu tua menjelaskan perihal anaknya.
“pada sukses
semua ya bu. Trus kalo anak yang pertama, bu?”, si pemuda kembali bertanya.
“anak pertama
saya jadi petani”, si ibu menjawab sambil tersenyum.
“eh koq cuma jadi
petani, sementara adik-adiknya jadi orang sukses semua”, si pemuda menimpali si
ibu.
“anak pertama
saya itu rela putus sekolah demi membantu saya bekerja dan menyekolahkan
adik-adiknya. Anak pertama saya itulah yang banting tulang, bekerja keras jadi
petani, jadi kuli juga, demi adik-adiknya bisa melanjutkan sekolah dan kuliah
di jakarta”, jawab si ibu tua.
Si pemuda
terhenyak. Ia tampak berfikir lama.
Terkadang olmaipren
kita seringkali mengomentari atau bahkan memandang kehidupan seseorang dengan
sebelah mata. Dengan mudahnya memberi reaksi untuk sesuatu yang bukan ranah
kita untuk memasukinya.
Dari kisah ibu
tua ini, pahamlah kita siapa yang berada di balik kesuksesan anak-anaknya,
selain si ibu sendiri tentunya, ada anak pertamanya yang rela putus sekolah,
rela kerja keras banting tulang, semua demi kelangsungan pendidikan
adik-adiknya.
Begitulah seharusnya
keluarga. Begitulah seharusnya saudara.
Ada lagi kisah
lain yang saya comot dari sebuah fanspage motivasi di facebook,
Aku dilahirkan di
sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku
membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku
mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk
membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya
membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera
menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan
sebuah tongkat bambu ditangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau
bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar
siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian
berdua layak dipukul!”
Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”
Tongkat panjang itu
menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia
terus-menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.
Sesudahnya, Beliau
duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri
dari rumah sekarang, hal
memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!” Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”
memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!” Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”
Aku masih selalu
membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.
Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru
kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku.
Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.
Ketika adikku berada
pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten.
Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.
Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus
demi bungkus.
Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik… hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?” Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku. ” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.”
Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik… hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?” Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku. ” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.”
Aku, sebaliknya, telah
memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.Siapa sangka keesokan
harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai
pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke
samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk
ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu
uang.” Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan
air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun.
Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku
hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku
akhirnya sampai
ke tahun ketiga (di universitas).
ke tahun ketiga (di universitas).
Suatu hari, aku sedang
belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada
seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana! “Mengapa ada seorang penduduk
dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh
badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu
tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum,
“Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya
adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?” Aku merasa terenyuh, dan
air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan
tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu
adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku
bagaimana pun penampilanmu…” Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut
berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya
melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki
satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke
dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku
membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan
bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di
depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk
membersihkan rumah kita!”
Tetapi katanya, sambil
tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini.
Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca
jendela baru itu..”
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.
Tahun itu, adikku 23.
Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.” Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.
Ia bersikeras memulai
bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga
untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk
rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada
kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak
akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu
sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami
sebelumnya?”
Dengan tampang yang
serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru
saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi
manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?” Mata suamiku
dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah, “Tapi
kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”
“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”
Ia melanjutkan dengan
menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya
pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan
saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu
hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari
kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami
tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin
sampai ia tidak dapat memegang sendoknya. Sejak hari itu, saya bersumpah,
selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”
Tepuk tangan
membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata
begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku
berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia
ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku
seperti sungai.
Nah olmaipren, Bisakah
kita memiliki jiwa besar seperti si adik dalam cerita?? tapi bagaimanapun, yang namanya Saudara
patut kita jaga dan kita hormati, apakah itu seorang adik atau seorang kakak.
Karena apa arti hidup kalau tidak bisa membahagiakan saudara dan keluarga kita.
Tentang pengorbanan kakak atau adik, duhai kawan tidakkah kita sadar
terkadang kita begitu sibuk menyanjung oranglain di luaran sana yang kita anggap
sudah membantu kita. Tapi pernahkah sekali saja kita mengucapkan terimakasih
secara tulus kepada adik atau kakak kita untuk semua pengorbanannya???
Sedikit sekali dari kita yang menyadari hal ini. Tak usah banyak
menyangkal, bahkan mungkin saya sendiri sering lalai sebagai kakak, bahkan
terkesan acuh untuk sekedar say thankyou kepada Reka atau Dinda.
Coba deh olmaipren merenung sejenak dengan pertanyaan-pertanyaan saya
berikut.
Kalian sayang sama adik, kakak, atau abang kalian kan?
Kapan terakhir kali kalian bilang sayang ke mereka?
Lupa?
Wajar,
Karna kata sayang atau rindu memang lebih mudah kita ucapkan ke
orang lain diluar keluarga kita, pacar kalian mungkin, atau sahabat kalian
mungkin.
Ingat tidak kalian ketika masih kecil-kecil ditinggal orangtua untuk
bekerja, dirumah hanya ada kalian bersama adik, abang atau kakak kalian. Bermain
bersama. Adik menangis kakak menenangkan. Kakak merasa bosan eh sang adik
membuat tingkah lucu untuk menghibur kakaknya. Tentu kalian pernah punya
pengalaman begitu kan. Atau kalian sebagai kakak, dulu ya seringkali jengkel
kalau mau pergi bermain harus mengajak adiknya. Ketika teman-teman seusiamu
sibuk dengan permainan barunya kalian malah sibuk menjaga adik dirumah. Ingatkah
kalian semua itu?
Apalagi yang punya keluarga besar, adik beradik banyak. Kapan terakhir
kalian saling curhat antar kakak dan adik? Ahh tak usah tentang curhat, kapan
kamu bertanya kabar kakakmu terakhir kali? Kakakmu yang sudah menikah dan
tinggal di luar kota itu? Ahh tak usah tentang kakakmu yang tinggal terpisah. Tentang
kakak atau adikmu yang masih serumah, adakah ucapan ulang tahun untuknya yang
kalian berikan?
Contoh lain dan seringkali terjadi kebanyakan kakak pulang kerja sudah
lelah, adik dirumah pulang sekolah juga sama lelahnya. Sekedar tau oh adik atau
kakak dirumah. Yasudah. Tidak menyapa. Tidak bertanya. Apalagi saling
bercerita.
Hal sepele ini lama-lama menjadikan parit kecil jadi jurang. Tau
maksudnya? Acuh tak acuh yang semakin lama malah semakin saling tidak peduli. Tidak
saling terbuka. Apa yang adik rasakan kakak tidak tau, begitu juga sebaliknya. Akhirnya
apa? Konflik.
Konflik ini bisa jadi berupa kecemburuan, iri dengki, dll. Kalian pasti
pahamlah kemungkinan apa yang bakal terjadi ke depan tentang si konflik ini. Kalau
diceritain malah jadi drama nanti, hehe.
Saya bicara seperti ini seolah saya sudah jadi kakak yang baik. Tidak. Belum. Boleh tanya Reka atau Dinda betapa sering
saya mengomeli mereka.
Intinya, selagi kita masih memiliki saudara, tak ada salahnya kita yang
memulai ‘berbaikan’ dengan anggota keluarga kita yang lain. Pelan-pelan
tularkan semangat perhatian. Tak usah gengsi untuk memulai. Cobalah. Karna hasil
akhir keluarga kalian sendiri yang akan merasakannya.
****
That’s all buat cerita kali ini.
Maaf kalau ada kata-kata yang kurang pas atau menyinggung ya olmaipren.
See u next story,
Di ketik di sela-sela jam kantor,
Si Kakak yang hobby ngomel,
-Tari-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar