CHAPTER 1 : POMPONG
Sekarang langit seolah tak mau berpihak padaku. Mendung.
Berangin. Aku masih melirik jam. Setengah jam lagi gumamku, tapi pompong ini
belum juga full penumpang. Kalian tau pompong? Pompong itu sejenis kapal kayu
kecil, tapi sudah bermesin. Bentuknya seperti sampan, tapi lebih besar dan
beratap terpal. Di bagian dalam ada kayu-kayu yang berbalis melintang, gunanya
untuk tempat duduk penumpang. Pengemudi pompong duduk di belakang mengendalikan
mesinnya. Bunyi mesin pompong memang berisik, apalagi kalau sedang melaju
beradu dengan bunyi ombak dan air laut. Pompong biasa digunakan masyarakat
kepulauan sebagai alat transportasi untuk menyeberang dari pulau satu ke pulau
lainnya.
Seperti yang kubilang diawal tadi aku masih menunggu
penumpang lainnya supaya pompong bisa berjalan. Aduh kawan aku bukan seorang
pengemudi pompong. Kau salah terka. Aku penumpang juga sama dengan yang
lainnya. Pompong ini kalau belum berjumlah 12 orang tak akan berjalan. Sebenarnya kalau mau cepat bisa saja, cuma
seorang penumpang pun bisa. Namanya sistem carter, jadi membayar sesuai harga
full penumpang. Berat juga sih, jadi ya harus menunggu penumpang lainnya hingga
penuh.
Sebenarnya tidak disetiap waktu juga aku menunggu
penumpang lain, ada masanya malah menunggu pompong yang belum datang. Terutama
di jam-jam sibuk, seperti pagi dan sore hari. Penumpang menumpuk menunggu
pompong yang sibuk bolak balik mengantar penumpang.
Aku kembali melihat awan-awan hitam yang mulai
menggumpal. Kupejamkan mata, mulutku bergerak pelan seolah berharap hujan
tolong jangan turun dulu. Baru 10 orang penumpang. Tinggal 2 orang penumpang
lagi maka pompong ini berjalan.
“Sudahlah Pak Cik, kau nyalakan saja pompongmu, tak ada
penumpang lagi. Kau lihat hujan sebentar lagi turun, rumah kami jauh lagi ni”,
kata seorang ibu-ibu kepada pengemudi pompong. Dalam hati aku pun berharap
pompong ini segera jalan.
“ye lah, ye lah jalan kite sekarang. Dah nak hujan pun”,
jawab pengemudi pompong.
Pompong akhirnya melaju perlahan. Meninggalkan Batam
dengan segala kebisingannya. Belum juga lima menit pompong bergerak, gerimis
mulai turun. Airnya gemericik di atap terpal pompong ini. Buihnya jatuh
bergabung dengan ombak di lautan. Entah mengapa jika gerimis maka ombak juga
semakin kuat. Aku tak paham. Apa karena laut tak terima airnya bercampur dengan
tawarnya air hujan? Angin juga semakin kencang. Kurapatkan jaket yang kupakai
sembari membaca doa-doa yang kuyakini bisa menenangkan hati. bukan apa. Aku
hanya takut sesuatu yang tidak ku inginkan terjadi. Aku bukannya pandai berenang.
Itu masalahnya.
“Bu Guru.. Bu Guru..”
“mbak.. mbak.. Bu guru ya?”, kata seorang laki-laki yang
duduk di barisan depanku. Dia menggerak-gerakkan tangannya di depanku. Seolah
ingin membuat aku sadar dari lamunan.
“ehh iya. Kenapa mas?”
“itu..!” katanya menunjuk pengemudi pompong di belakang
kami.
Aku menoleh ke belakang.
“Bu guru ni, tengah hujan pon asek nak melamun aje”,
sekilas aku mendengar ibu disampingku bergumam pelan.
“Bu Guru...!!! pakai pelampung ni, ombak kuat..!!!”
teriak Pak Jay, pengemudi pompong.
Aku mengulurkan tangan menerima safety jacket pelampung
berwarna oranye itu. “makasih Pak..!”, aku balas teriak, walau tetap saja
suaraku kalah dengan bunyi pompong dan hujan.
Aku meremas jariku. Rasanya jantungku berdebar cepat.
Takut. Aku melirik jam di pergelangan tangan. 5 menit lagi pompong ini sampai.
Tiba-tiba “Byuurr”, ombak menghantam kuat. Air laut berusaha mengalahkan terpal
yang melingkupi kami di dalam pompong.
Sebenarnya aku bisa merasa penumpang lain juga panik.
Tapi masing-masing hanya diam. Diam dengan pikirannya. Diam dengan
do’a-do’anya.
Semakin mendekati pulau, angin mulai tenang. Awan mendung
juga bergerak perlahan.
“Bisa pula macam ni. Tengah laut hujan deras, dah sampai
tak ada nampak hujan pun”, seorang ibu disebelahku bersuara memecah keheningan
diantara kami.
“Itulah kuasa Allah. Kita dibuat macam tak berdaya aja
tadi kan. Tengok tu muka bu guru pucat macam tu”, Pak Jay, pengemudi kapal ikut
menimpali. Sontak aku menundukkan wajah, menahan malu dikatainya aku pucat.
Pengemudi lain bahkan sudah bisa tertawa sambil menatapku.
Sisa perjalanan kami di isi dengan gurauan. Bahkan ada
beberapa dari mereka yang baru tau aku guru baru yang akan mengajar disini.
Sudah satu minggu ini aku bolak balik pulau – Batam.
Akhirnya pompong merapat ke pelabuhan dengan selamat.
Satu persatu penumpang turun setelah memberikan ongkos ke Pak Jay.
“Pak Jay, makasih ya”, aku mengulurkan jaket pelampung
dan ongkos pompong.
“eh tak payah bayar lah bu guru. Kan anak saya sekolah
pun tak ada bayar. Bu guru dah baik sangat, sebelum ada bu guru mana mau anak
saya tu pergi sekolah. Sekarang tiap hari semangat dia pergi sekolah”, kata Pak
Jay.
“gak apa-apa pak. Terima saja. Saya kan sama dengan yang
lain, penumpang juga. Rejeki ga baik kalau di tolak Pak. Makasih ya pak. Saya
permisi dulu”, aku berkata pelan, seolah meyakinkan Pak Jay untuk menerima
ongkosnya.
Aku berjalan cepat di pelantar.
“Hati-hati bu guru..!!!” pak jay berteriak dari
pompongnya.
Aku menoleh ke belakang tersenyum sambil menganggukkan
kepala sedikit.
Sejauh ini orang-orang di pulau ini ramah dan mau
menerima keberadaanku dengan baik.
Aku harus berjalan cepat, 15 menit lagi lonceng sekolah
berbunyi. Itu artinya 15 menit lagi harusnya aku sudah berada di kelas. Dari kejauhan
tampak anak-anak berseragam SD berlari-lari mendekat kepadaku.
“Bu guru, Bu guru... itu bu.. itu bu...” seorang anak
berperawakan tinggi berkata dengan nafasnya yang berat setelah berlari,
tangannya menunjuk ke arah sekolah.
Mataku refleks melihat ke arah sekolah, tampak asap hitam
mengepul dari kejauhan.
Aku terpaku. Tak bisa bergerak.
Apa yang terjadi? Itu asap apa?
“Bu guru.. cepat bu.. cepat ke sekolah”, anak
berperawakan tinggi menarik tanganku.
“sekolah kita bu, kebakaran”, seorang anak berkata lirih.
~~~~~
*Bersambung*
Segitu dulu ya olmaipren cerita bersambung perdana yang
aku share di blog. Sembari menunggu ilham selanjutnya yang entah kapan akan
datang, hehe.
See u next chapter,
-Tari-
Penulis amatir

Tidak ada komentar:
Posting Komentar