Sabtu, 15 Oktober 2016

CERBUNG : BU GURU



CHAPTER 1 : POMPONG

Sekarang langit seolah tak mau berpihak padaku. Mendung. Berangin. Aku masih melirik jam. Setengah jam lagi gumamku, tapi pompong ini belum juga full penumpang. Kalian tau pompong? Pompong itu sejenis kapal kayu kecil, tapi sudah bermesin. Bentuknya seperti sampan, tapi lebih besar dan beratap terpal. Di bagian dalam ada kayu-kayu yang berbalis melintang, gunanya untuk tempat duduk penumpang. Pengemudi pompong duduk di belakang mengendalikan mesinnya. Bunyi mesin pompong memang berisik, apalagi kalau sedang melaju beradu dengan bunyi ombak dan air laut. Pompong biasa digunakan masyarakat kepulauan sebagai alat transportasi untuk menyeberang dari pulau satu ke pulau lainnya.

Seperti yang kubilang diawal tadi aku masih menunggu penumpang lainnya supaya pompong bisa berjalan. Aduh kawan aku bukan seorang pengemudi pompong. Kau salah terka. Aku penumpang juga sama dengan yang lainnya. Pompong ini kalau belum berjumlah 12 orang tak akan berjalan.  Sebenarnya kalau mau cepat bisa saja, cuma seorang penumpang pun bisa. Namanya sistem carter, jadi membayar sesuai harga full penumpang. Berat juga sih, jadi ya harus menunggu penumpang lainnya hingga penuh.

Sebenarnya tidak disetiap waktu juga aku menunggu penumpang lain, ada masanya malah menunggu pompong yang belum datang. Terutama di jam-jam sibuk, seperti pagi dan sore hari. Penumpang menumpuk menunggu pompong yang sibuk bolak balik mengantar penumpang.

Aku kembali melihat awan-awan hitam yang mulai menggumpal. Kupejamkan mata, mulutku bergerak pelan seolah berharap hujan tolong jangan turun dulu. Baru 10 orang penumpang. Tinggal 2 orang penumpang lagi maka pompong ini berjalan.

“Sudahlah Pak Cik, kau nyalakan saja pompongmu, tak ada penumpang lagi. Kau lihat hujan sebentar lagi turun, rumah kami jauh lagi ni”, kata seorang ibu-ibu kepada pengemudi pompong. Dalam hati aku pun berharap pompong ini segera jalan.

“ye lah, ye lah jalan kite sekarang. Dah nak hujan pun”, jawab pengemudi pompong.

Pompong akhirnya melaju perlahan. Meninggalkan Batam dengan segala kebisingannya. Belum juga lima menit pompong bergerak, gerimis mulai turun. Airnya gemericik di atap terpal pompong ini. Buihnya jatuh bergabung dengan ombak di lautan. Entah mengapa jika gerimis maka ombak juga semakin kuat. Aku tak paham. Apa karena laut tak terima airnya bercampur dengan tawarnya air hujan? Angin juga semakin kencang. Kurapatkan jaket yang kupakai sembari membaca doa-doa yang kuyakini bisa menenangkan hati. bukan apa. Aku hanya takut sesuatu yang tidak ku inginkan terjadi. Aku bukannya pandai berenang. Itu masalahnya. 

“Bu Guru.. Bu Guru..”

“mbak.. mbak.. Bu guru ya?”, kata seorang laki-laki yang duduk di barisan depanku. Dia menggerak-gerakkan tangannya di depanku. Seolah ingin membuat aku sadar dari lamunan.

“ehh iya. Kenapa mas?”

“itu..!” katanya menunjuk pengemudi pompong di belakang kami.

Aku menoleh ke belakang.

“Bu guru ni, tengah hujan pon asek nak melamun aje”, sekilas aku mendengar ibu disampingku bergumam pelan.

“Bu Guru...!!! pakai pelampung ni, ombak kuat..!!!” teriak Pak Jay, pengemudi pompong.

Aku mengulurkan tangan menerima safety jacket pelampung berwarna oranye itu. “makasih Pak..!”, aku balas teriak, walau tetap saja suaraku kalah dengan bunyi pompong dan hujan.

Aku meremas jariku. Rasanya jantungku berdebar cepat. Takut. Aku melirik jam di pergelangan tangan. 5 menit lagi pompong ini sampai. Tiba-tiba “Byuurr”, ombak menghantam kuat. Air laut berusaha mengalahkan terpal yang melingkupi kami di dalam pompong.

Sebenarnya aku bisa merasa penumpang lain juga panik. Tapi masing-masing hanya diam. Diam dengan pikirannya. Diam dengan do’a-do’anya. 

Semakin mendekati pulau, angin mulai tenang. Awan mendung juga bergerak perlahan. 

“Bisa pula macam ni. Tengah laut hujan deras, dah sampai tak ada nampak hujan pun”, seorang ibu disebelahku bersuara memecah keheningan diantara kami.

“Itulah kuasa Allah. Kita dibuat macam tak berdaya aja tadi kan. Tengok tu muka bu guru pucat macam tu”, Pak Jay, pengemudi kapal ikut menimpali. Sontak aku menundukkan wajah, menahan malu dikatainya aku pucat. Pengemudi lain bahkan sudah bisa tertawa sambil menatapku.

Sisa perjalanan kami di isi dengan gurauan. Bahkan ada beberapa dari mereka yang baru tau aku guru baru yang akan mengajar disini. Sudah satu minggu ini aku bolak balik pulau – Batam.

Akhirnya pompong merapat ke pelabuhan dengan selamat. Satu persatu penumpang turun setelah memberikan ongkos ke Pak Jay.

“Pak Jay, makasih ya”, aku mengulurkan jaket pelampung dan ongkos pompong.

“eh tak payah bayar lah bu guru. Kan anak saya sekolah pun tak ada bayar. Bu guru dah baik sangat, sebelum ada bu guru mana mau anak saya tu pergi sekolah. Sekarang tiap hari semangat dia pergi sekolah”, kata Pak Jay.

“gak apa-apa pak. Terima saja. Saya kan sama dengan yang lain, penumpang juga. Rejeki ga baik kalau di tolak Pak. Makasih ya pak. Saya permisi dulu”, aku berkata pelan, seolah meyakinkan Pak Jay untuk menerima ongkosnya.

Aku berjalan cepat di pelantar.

“Hati-hati bu guru..!!!” pak jay berteriak dari pompongnya.

Aku menoleh ke belakang tersenyum sambil menganggukkan kepala sedikit.

Sejauh ini orang-orang di pulau ini ramah dan mau menerima keberadaanku dengan baik.

Aku harus berjalan cepat, 15 menit lagi lonceng sekolah berbunyi. Itu artinya 15 menit lagi harusnya aku sudah berada di kelas. Dari kejauhan tampak anak-anak berseragam SD berlari-lari mendekat kepadaku.

“Bu guru, Bu guru... itu bu.. itu bu...” seorang anak berperawakan tinggi berkata dengan nafasnya yang berat setelah berlari, tangannya menunjuk ke arah sekolah.

Mataku refleks melihat ke arah sekolah, tampak asap hitam mengepul dari kejauhan. 

Aku terpaku. Tak bisa bergerak.

Apa yang terjadi? Itu asap apa?

“Bu guru.. cepat bu.. cepat ke sekolah”, anak berperawakan tinggi menarik tanganku.

“sekolah kita bu, kebakaran”, seorang anak berkata lirih.


~~~~~

*Bersambung*

Segitu dulu ya olmaipren cerita bersambung perdana yang aku share di blog. Sembari menunggu ilham selanjutnya yang entah kapan akan datang, hehe.



See u next chapter,

-Tari-

Penulis amatir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar