Senin, 17 Oktober 2016

CERBUNG : BU GURU - CHAPTER II - SEKOLAH



CHAPTER II : SEKOLAH




Aku masih tidak percaya, sekolah tempatku mengajar seminggu ini sebagian gedungnya sudah berubah menjadi abu. Usah kau tanya aku apa sebabnya? Aku juga tak tau bagaimana menjelaskannya.

Pagi itu aku berjalan tergesa – gesa, lalu entah bagaimana api sudah membakar sebagian gedung sekolah. Apa kau berfikir gedung yang kumaksud itu gedung bertingkat dua sebagaimana sekolah di Batam? Kau salah kawan, sekolah kami itu hanya dua petak bangunan dari kayu, berlantaikan semen, dan beratap seng. Satu ruangan digunakan untuk kelas, satu ruangan lagi adalah kantor guru. 

Lalu apa yang membuat bangunan tak layak ini bisa kebakaran? Aku tak tau pasti.

Tapi yang ku tahu sekarang perasaanku sama abunya seperti bentuk sekolah sekarang, berantakan.

Setelah api bisa dipadamkan, tak ada yang tersisa. Bangunan kayu itu mudah saja habis terbakar. Meja dan kursi kayu juga tak ada yang bisa diselamatkan. 

Aku shock itu pasti, tapi aku bisa apa? 

Aku menyeka air mata yang sudah siap menetes. 

“Bu guru, sekolah kita habis bu, macam mana kita mau belajar bu?”

“hiks.. hiks.. Bu guru, kita dah tak bisa sekolah lagi”

Satu anak meraih tangan kananku, satu anak memegang lengan kiriku, yang lain mengerubungiku. Kalian bisa bantu aku jawab apa ke anak-anak ini? Rasanya tenggorokanku tercekat tak bisa berkata apa-apa.

Sekolah ini memang hanya 1 kelas dengan beragam anak berusia 6-10 tahun. Total murid sekitar 15 anak. Mereka semua sama, masih duduk di kelas 1 SD. Baru seminggu ini mereka mulai belajar lagi. Lalu sekarang?

Sebulan lalu aku memutuskan resign dari sebuah kantor swasta, yang bergerak di bidang konsultan keuangan. Jabatan terakhirku, senior accounting. Aku banting stir jadi relawan, mengajar dengan sukarela di sekolah ini. Aku yang dilanda kegamangan setahunan ini, aku yang mulai merasa jenuh dengan rutinitas kantoran, aku yang setahunan merasa jadi accounting bukan tujuan hidupku, aku yang mendadak muak melihat deretan angka di komputer. Aku resign. Aku memutuskan hubungan dengan semua hal yang berbau accounting. Karirku berhenti. Aku pengangguran. Hingga 2 minggu setelah resign aku mendaftarkan diri sebagai relawan mengajar untuk pulau-pulau hinterland disekitar Batam dan Kepulauan Riau. Lalu aku mengikuti training dan segala macamnya. Apa yang membuat aku tiba-tiba tertarik? Aku juga tidak tau. Seperti jatuh cinta yang tak butuh banyak alasan, maka ketika aku memutuskan untuk jadi relawan juga tak banyak alasan. Aku mau. Begitu saja alasanku cukup. Seminggu setelahnya aku mulai mengajar di pulau ini. Guru SD kelas 1 yang muridnya hanya 15 orang dengan beragam usia. Sekolah kayu ini sudah lama sekali tak beroperasional. Dengan semua resiko yang akan aku hadapi aku meneguhkan hati siap lahir batin dengan tugas baruku menjadi relawan pengajar di pulau ini. Tanpa digaji. Ikhlas berbakti.

Kalau tadi aku bilang aku siap dengan semua resiko. Tapi jujur setelah kejadian kebakaran ini aku tak yakin lagi? Semangatku hilang. 

“Sudahlah anak-anak. Bu guru bawa anak-anaknya dulu ke tepian sana, biar warga bersihkan dulu ini puing-puingnya, bahaya disini”, kata seorang bapak yang kutahu beliau dan beberapa warga disini yang turut memadamkan api.

Aku berjalan terhuyung dikelilingi anak-anak. Aku terduduk di tanah. Anak-anak mengelilingiku. Seolah menungguku berbicara. Lagi-lagi aku harus menyeka air mata melihat wajah polos mereka. Lagi aku bertanya ke kalian, bisa bantu aku jelaskan ke anak-anak ini kalau semua baik-baik saja? Ah, apanya yang baik-baik saja kalau sudah habis tak bersisa begini.

“Anak-anak, sekolah kita sudah habis terbakar”, aku berkata pelan dengan suara parau menahan tangis

“kalian harus sabar, ini cobaan. Allah mau lihat keteguhan hati anak-anak semua. Jadi sekali lagi ibu bilang kalian harus sabar, ikhlas”

“nanti sekolahnya kita bangun lagi, anak-anak tetap masih bisa sekolah nanti, jangan sedih lagi ya, harus tetap semangat...”


****


“ini bukan sekedar bencana. Saya yakin ini direncanakan. Kamu tau kan awal-awal kita survei lokasi setelah training, ada sebagian warga disana yang tidak ingin sekolah itu beroperasi lagi. Karena 2 ruangan itu mau  berganti fungsi jadi gudang kelapa. Walau akhirnya setelah kita mengurus izin kesana kemari banyak juga warga yang akhirnya berpihak ke kita dan menyambut baik keberadaan sekolah itu. Masalahnya adalah siapa dalang dari semua ini”, Mas Fajar, ketua tim relawan masih sibuk mengomentari kejadian tadi pagi.

Sekarang jam 20.00. Aku masih duduk mendengar para relawan ini mengomentari kejadian tadi pagi. Aku lelah, pasti. 

“Kita harus cari tau siapa dalang dibalik ini semua. Kalau perlu kita laporkan saja kejadian ini ke polisi”, Mas Fajar masih terus berkomentar. 

Asal kalian tau ya, aku mendengar kalimat itu dari mulut Mas Fahar sudah lebih dari 10 kali terhitung sejak aku datang di kantor relawan ini. Aku ingin menyela sebenarnya. Tapi aku sudah terlanjur lelah. Biarkan saja orang-orang ini dengan komentarnya.

Waktu menunjukkan pukul 20.45 aku memutuskan beranjak dari sini.

“Mas Fajar, saya izin pulang dulu. Saya lelah”

“Oh iya Indi, kamu pulang aja. Biar masalah ini kami yang selesaikan”, Mas Fajar menyambut cepat.

Aku hanya mengangguk. Aku terlalu lelah hari ini.

“Radit, lu antar Indi pulang pakai mobil gue. Kasian dia kelelahan sampai pucat begitu”, Mas Fajar menyuruh Radit yang sedang duduk di pojokan untuk mengantarku.


****


Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam menatap keluar jendela. Bukannya aku tidak tau sedari tadi Radit mencuri-curi pandang kepadaku. Seperti ada yang mau ditanyakannya. Mungkin karna melihat aku hanya diam saja akhirnya dia juga segan sendiri.

Aku masih membayangkan rentetan kejadian hari ini. Seperti kaset yang terus di ulang-ulang di kepalaku. Aku kembali menyeka air mata yang lolos begitu saja ketika terbayang wajah anak-anak polos itu. Satu hal yang baru aku sadari dari profesi baruku ini. Aku belum cukup kuat mental menghadapi ini.

“Indi...”, Radit memanggilku pelan.

Aku belum mau menoleh atau menjawabnya. Aku masih sibuk menyeka air mata yang lagi-lagi bisa lolos walau sudah sekuat mungkin ku tahan.

“Indi...”

“Indi, sebenarnya saya tau siapa di balik kejadian ini semua”

Aku terkejut, berpaling cepat menatap Radit. Menatapnya tajam seolah bertanya. Siapa?


****

*bersambung*

yuhuuu Chapter II selesai syudaahh.. kalau ada hal yang ga nyambung abaikan aja ya. 
makasih yang udah mau baca. Penasaran ga lanjutannya apa??? 

Gak ya??? yaudah deh -____-
 apa?? penasaran dikit??? oke fix ntar aku lanjut lagi ceritanya kalau gitu.wkwkwkwk

oh  ya foto hasil browsing itu ya, kira2 mirip seperti itulah bangunannya. mirip sekolahnya laskar pelangi yak. hehe

see u next chapter guys,

bye.

-Tari-
Penulis amatir

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar