CHAPTER II : SEKOLAH
Aku masih tidak percaya, sekolah tempatku mengajar
seminggu ini sebagian gedungnya sudah berubah menjadi abu. Usah kau tanya aku
apa sebabnya? Aku juga tak tau bagaimana menjelaskannya.
Pagi itu aku berjalan tergesa – gesa, lalu entah
bagaimana api sudah membakar sebagian gedung sekolah. Apa kau berfikir gedung
yang kumaksud itu gedung bertingkat dua sebagaimana sekolah di Batam? Kau salah
kawan, sekolah kami itu hanya dua petak bangunan dari kayu, berlantaikan semen,
dan beratap seng. Satu ruangan digunakan untuk kelas, satu ruangan lagi adalah
kantor guru.
Lalu apa yang membuat bangunan tak layak ini bisa
kebakaran? Aku tak tau pasti.
Tapi yang ku tahu sekarang perasaanku sama abunya seperti
bentuk sekolah sekarang, berantakan.
Setelah api bisa dipadamkan, tak ada yang tersisa.
Bangunan kayu itu mudah saja habis terbakar. Meja dan kursi kayu juga tak ada
yang bisa diselamatkan.
Aku shock itu pasti, tapi aku bisa apa?
Aku menyeka air mata yang sudah siap menetes.
“Bu guru, sekolah kita habis bu, macam mana kita mau
belajar bu?”
“hiks.. hiks.. Bu guru, kita dah tak bisa sekolah lagi”
Satu anak meraih tangan kananku, satu anak memegang
lengan kiriku, yang lain mengerubungiku. Kalian bisa bantu aku jawab apa ke
anak-anak ini? Rasanya tenggorokanku tercekat tak bisa berkata apa-apa.
Sekolah ini memang hanya 1 kelas dengan beragam anak
berusia 6-10 tahun. Total murid sekitar 15 anak. Mereka semua sama, masih duduk
di kelas 1 SD. Baru seminggu ini mereka mulai belajar lagi. Lalu sekarang?
Sebulan lalu aku memutuskan resign dari sebuah kantor
swasta, yang bergerak di bidang konsultan keuangan. Jabatan terakhirku, senior accounting. Aku banting stir jadi
relawan, mengajar dengan sukarela di sekolah ini. Aku yang dilanda kegamangan
setahunan ini, aku yang mulai merasa jenuh dengan rutinitas kantoran, aku yang
setahunan merasa jadi accounting
bukan tujuan hidupku, aku yang mendadak muak melihat deretan angka di komputer.
Aku resign. Aku memutuskan hubungan dengan semua hal yang berbau accounting. Karirku berhenti. Aku pengangguran.
Hingga 2 minggu setelah resign aku mendaftarkan diri sebagai relawan mengajar
untuk pulau-pulau hinterland disekitar
Batam dan Kepulauan Riau. Lalu aku mengikuti training dan segala macamnya. Apa yang
membuat aku tiba-tiba tertarik? Aku juga tidak tau. Seperti jatuh cinta yang
tak butuh banyak alasan, maka ketika aku memutuskan untuk jadi relawan juga tak
banyak alasan. Aku mau. Begitu saja alasanku cukup. Seminggu setelahnya aku
mulai mengajar di pulau ini. Guru SD kelas 1 yang muridnya hanya 15 orang
dengan beragam usia. Sekolah kayu ini sudah lama sekali tak beroperasional. Dengan
semua resiko yang akan aku hadapi aku meneguhkan hati siap lahir batin dengan
tugas baruku menjadi relawan pengajar di pulau ini. Tanpa digaji. Ikhlas berbakti.
Kalau tadi aku bilang aku siap dengan semua resiko. Tapi jujur
setelah kejadian kebakaran ini aku tak yakin lagi? Semangatku hilang.
“Sudahlah anak-anak. Bu guru bawa anak-anaknya dulu ke
tepian sana, biar warga bersihkan dulu ini puing-puingnya, bahaya disini”, kata
seorang bapak yang kutahu beliau dan beberapa warga disini yang turut
memadamkan api.
Aku berjalan terhuyung dikelilingi anak-anak. Aku terduduk
di tanah. Anak-anak mengelilingiku. Seolah menungguku berbicara. Lagi-lagi aku
harus menyeka air mata melihat wajah polos mereka. Lagi aku bertanya ke kalian,
bisa bantu aku jelaskan ke anak-anak ini kalau semua baik-baik saja? Ah, apanya
yang baik-baik saja kalau sudah habis tak bersisa begini.
“Anak-anak, sekolah kita sudah habis terbakar”, aku
berkata pelan dengan suara parau menahan tangis
“kalian harus sabar, ini cobaan. Allah mau lihat
keteguhan hati anak-anak semua. Jadi sekali lagi ibu bilang kalian harus sabar,
ikhlas”
“nanti sekolahnya kita bangun lagi, anak-anak tetap masih
bisa sekolah nanti, jangan sedih lagi ya, harus tetap semangat...”
****
“ini bukan sekedar bencana. Saya yakin ini direncanakan. Kamu
tau kan awal-awal kita survei lokasi setelah training, ada sebagian warga
disana yang tidak ingin sekolah itu beroperasi lagi. Karena 2 ruangan itu
mau berganti fungsi jadi gudang kelapa. Walau
akhirnya setelah kita mengurus izin kesana kemari banyak juga warga yang
akhirnya berpihak ke kita dan menyambut baik keberadaan sekolah itu. Masalahnya
adalah siapa dalang dari semua ini”, Mas Fajar, ketua tim relawan masih sibuk mengomentari
kejadian tadi pagi.
Sekarang jam 20.00. Aku masih duduk mendengar para
relawan ini mengomentari kejadian tadi pagi. Aku lelah, pasti.
“Kita harus cari tau siapa dalang dibalik ini semua. Kalau
perlu kita laporkan saja kejadian ini ke polisi”, Mas Fajar masih terus
berkomentar.
Asal kalian tau ya, aku mendengar kalimat itu dari mulut
Mas Fahar sudah lebih dari 10 kali terhitung sejak aku datang di kantor relawan
ini. Aku ingin menyela sebenarnya. Tapi aku sudah terlanjur lelah. Biarkan saja
orang-orang ini dengan komentarnya.
Waktu menunjukkan pukul 20.45 aku memutuskan beranjak
dari sini.
“Mas Fajar, saya izin pulang dulu. Saya lelah”
“Oh iya Indi, kamu pulang aja. Biar masalah ini kami yang
selesaikan”, Mas Fajar menyambut cepat.
Aku hanya mengangguk. Aku terlalu lelah hari ini.
“Radit, lu antar Indi pulang pakai mobil gue. Kasian dia
kelelahan sampai pucat begitu”, Mas Fajar menyuruh Radit yang sedang duduk di
pojokan untuk mengantarku.
****
Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam menatap keluar
jendela. Bukannya aku tidak tau sedari tadi Radit mencuri-curi pandang
kepadaku. Seperti ada yang mau ditanyakannya. Mungkin karna melihat aku hanya
diam saja akhirnya dia juga segan sendiri.
Aku masih membayangkan rentetan kejadian hari ini. Seperti
kaset yang terus di ulang-ulang di kepalaku. Aku kembali menyeka air mata yang
lolos begitu saja ketika terbayang wajah anak-anak polos itu. Satu hal yang
baru aku sadari dari profesi baruku ini. Aku belum cukup kuat mental menghadapi
ini.
“Indi...”, Radit memanggilku pelan.
Aku belum mau menoleh atau menjawabnya. Aku masih sibuk
menyeka air mata yang lagi-lagi bisa lolos walau sudah sekuat mungkin ku tahan.
“Indi...”
“Indi, sebenarnya saya tau siapa di balik kejadian ini
semua”
Aku terkejut, berpaling cepat menatap Radit. Menatapnya tajam
seolah bertanya. Siapa?
****
*bersambung*
yuhuuu Chapter II selesai syudaahh.. kalau ada hal yang ga nyambung abaikan aja ya.
makasih yang udah mau baca. Penasaran ga lanjutannya apa???
Gak ya??? yaudah deh -____-
apa?? penasaran dikit??? oke fix ntar aku lanjut lagi ceritanya kalau gitu.wkwkwkwk
oh ya foto hasil browsing itu ya, kira2 mirip seperti itulah bangunannya. mirip sekolahnya laskar pelangi yak. hehe
see u next chapter guys,
bye.
-Tari-
Penulis amatir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar